Loading......

Nasaruddin Djafar; Menantikan Munculnya Matahari Utara.

Penulis : Nasaruddin Djafar / Toko Pemuda Pinrang

SUARA PEMUDA,-- keluarga merupakan tiang kokoh untuk menjaga eksistensi sebuah peradaban yang dinamis tetapi terikat dalam kompleksitas aturan hukum. ini termaktub dalam konsep "pangngadaran". "Pangngadaran" ini merupakan perilaku dan tatakrama sebagai manifestasi akan nilai luhur hubungan kemanusiaan dengan Alam  dan wujud berserah diri kepada Tuhan. Hal tersebut bisa diukur dari sejauh mana pemahaman kita mengenal "diri".


Melalui literasi, jejak epistemologi, hikayat para tauladan serta memaknai bahasa alam sebagai dzikir untuk menyembah sang pencipta, manusia senantiasa menuju nilai kemanusiaan yang hakiki.


Kebijakan publik Dalam konsepsi panggadaran berarti juga menjaga keseimbangan fungsi dan peran  aktor, Porsi akan hak dan kewajiban, dan menempatkan nilai luhur kebudayaan sebagai penjelas antara yang haq dan yang bathil. Pemerintah bertugas menjaga keseimbangan antar manusia dan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan tuhannya.

Ketidakseimbangan menghasilkan ketimpangan yang nyata dilihat dalam besarnya kesenjangan sosial dan lambannya akselerasi pembangunan untuk mengejar pemerataan, hal ini setidaknya dapat dilihat dari
1. tidak maksimalnya peningkatan pendidikan,
2. tidak maksimalnya sarana/prasarana kesehatan,
3. meningkatnya jumlah pengangguran,
4. pelayanan-pelayanan administrasi yang tidak efektif dan efisien
5. Rendahnya pendapatan masyarakat,

menjadi sebuah tanggung jawab kemanusiaan (diri) yang dipelopori oleh pemerintah untuk melakukan perubahan-perubahan signifikan dan semestinya sudah lama menjadi prioritas  sebagai manusia dalam hakikatnya.

Langkah langkah perubahan inilah yang semestinya difikirkan bersama sehingga polemik-polemik aktivitas kehidupan masyarakat dapat diretas dengan cepat, tepat dan bijaksana dan tentunya hal itu melalui nilai-nilai kerukunan keluarga.

 Karena dalam kerukunan keluarga mampu mengasah jiwa gotong royong dan kepedulian sesama manusia. Hal tersebut bisa dipahami dengan melakukan analisis kepemimpinan tokoh tauladan dalam merespon fenomena sosial.

Dapat dibuktikan oleh adanya para tokoh Pinrang Utara yang telah mempelopori banyak perubahan sosial berkemajuan yang sejauh ini telah dirasakan oleh pemuda Pinrang utara.

Hal ini kemudian seharusnya dapat menjadi sebuah rujukan untuk kami, pemuda Pinrang utara dalam menjejaki tindakan yang berakar dari nilai luhur itu , untuk bisa mengenal dan bahkan tahu "diri".

Karena dengan kami tahu "diri" maka arah perubahan yang menjadi harapan para tokoh-tokoh Pinrang Utara yang belum tuntas bisa kami jaga dan lanjutkan, setidaknya membentuk fondasi kepedulian demi sebuah perubahan yang besar bagi Pinrang Utara.

Maka dari itu kami khususnya selaku pemuda berharap agar wadah-wadah sosial kepemudaan dan kemasyarakatan yang ada agar kita pertegas eksistensinya sebagaimana visi misi yang telah terbangun melalui kesepahaman para tokoh-tokoh Pinrang Utara.

Karena kita sadari dengan Melihat fakta belakangan ini, ada sikap-sikap apatisme atau kurang kepedulian para tokoh penggerak dahulu menjaga konsistensi dalam gerakan sehingga sangat berdampak pula pada sikap apatis generasi muda saat ini dalam menyadari perlunya menindaklanjuti cita-cita perubahan yang semestinya terus bergulir.

Maka dari itu kami berharap adanya sebuah inisiatif untuk melakukan "Rekonsiliasi AKBAR keluarga besar Pinrang Utara" sebagai ruang untuk memberikan pemahaman dan nasehat-nasehat kepada kami untuk benar-benar mendorong menindaklanjuti terbentuknya kabupaten Pinrang utara.

Inilah sebuah harapan besar kami para pemuda akan sebuah revolusi tata kelola pemerintahan yang benar-benar memberikan dampak pada akselerasi pembangunan SDM dan SDA.(***)

Penulis : Nasaruddin Djafar / Toko Pemuda Pinrang

Posting Komentar

0 Komentar