Siapa Pemilik Bulan Rajab, Sya'ban, dan Ramadhan?

Istimewa

RAMADHAN,--Wakil Katib Pengurus Cabang NU Kabupaten Pringsewu, Lampung Gus Amir Maruf menjelaskan bahwa ada pemilik tersendiri tiga bulan yang berurutan yakni Rajab, Sya'ban, dan Ramadhan. Kepemilikan ini ditandai dengan keistimewaan peristiwa dan perintah khusus Allah SWT kepada umat Islam dalam bulan-bulan tersebut.

"Rajab Bulan Allah, Sya'ban Bulan Nabi, Ramadhan Bulan Umat Islam," demikian jelasnya saat mengisi tausiyah Safari Ramadhan 1440 H Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu di Masjid Hidayatullah, Purwodadi, Kecamatan Adiluwih, Jumat (10/5).

Rajab disebut sebagai bulan Allah lanjut Gus Amir, karena dalam bulan ini terjadi peristiwa penting yakni perjalanan Isra' Mi'raj Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian naik ke sidratul muntaha untuk bertemu dengan Allah SWT. 

Dalam peristiwa ini Allah memerintahkan umat Islam untuk menyembah-Nya dalam bentuk kewajiban shalat lima waktu.

"Sya'ban disebut sebagai bulan Nabi Muhammad karena Allah menurunkan ayat tentang perintah bershalawat kepada Nabi pada bulan ini," lanjutnya tentang perintah bershalawat pada Qur'an surat Al Ahzab: 56 ini.

Ayat yang diturunkan di akhir bulan Sya'ban ini mengingatkan umat Islam betapa mulianya Nabi Muhammad sampai-sampai Allah memerintahkan umat Islam dan malaikat bershalawat kepadanya. Lebih dari itu Allah yang memerintahkan bershalawat juga ikut bershalawat kepada Nabi.

"Hanya bershalawat inilah, Allah memerintahkannya dan Allah juga melakukannya," ungkap Gus Amir .

Sementara bulan Ramadhan disebut sebagai bulan umat Islam karena bulan Ramadhan hanya diberikan kepada umat Islam. Di dalamnya banyak sekali keutamaan yang bisa diraih khusus oleh umat Islam. Di bulan Ramadhan juga turun rahmat, ampunan dan dilipatgandakan pahala amal ibadah umat Islam.

Sehingga ia mengajak umat Islam agar mampu memaksimalkan pemberian istimewa Allah ini dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah di bulan ini. Puasa sebagai ibadah utama dalam bulan Ramadhan juga harus benar-benar dijaga sehingga dapat meraih tujuan utama puasa yakni menjadi jiwa yang bertakwa.

"Jaga puasa kita. Jangan hanya mendapat lapar dan dahaga saja. Caranya adalah menghindari perbuatan yang dapat menghilangkan pahala puasa yakni bohong, ghibah, namimah, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu," pungkasnya. (Muhammad Faizin/NU online)

Posting Komentar

0 Komentar