Khutbah Idul Adha, Kiai Said: Al-Qur’an Lestarikan Sejarah Nabi Ibrahim





KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat menyampaikan khutbah Idul Adha di Masjid lingkungan Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Ahad (11/8).


NASIONAL, NU Online,--
Nabi Ibrahim adalah sosok Nabi yang dikenal sebagai bapaknya para Nabi. Hal ini bukan tanpa sebab mengingat saking banyaknya Nabi yang merupakan anak cucunya. Sebagai seorang keturunannya dari Nabi Ismail, Nabi Muhammad saw dengan kakeknya itu terpaut jarak ribuan tahun. Tetapi, ia paham akan sejarah kakeknya, meski tidak memiliki kemampuan baca tulis, belajar, apalagi sekolah.

 
“Akan tetapi mendapatkan wahyu Al-Qur’an, beliau mengerti tentang kisah-kisah para nabi,” jelas KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat menyampaikan khutbah Idul Adha di Masjid lingkungan Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Ahad (11/8).

Kiai Said menegaskan bahwa kehadiran Al-Qur’an menginventarisasi berbagai peristiwa penting di zaman dulu sehingga bisa lestari. “Dengan Al-Qur’an, sejarah dunia sejak lahirnya, sejak diciptakannya Adam sampai Nabi Muhammad lahir, sejarah lestari abadi dengan mukjizat Al-Qur'an,” katanya.

Secara bahasa, menurutnya, nama Ibrahim terdiri dari dua kata, yakni Ib yang berarti bapak dan Rahim yang berarti umat. Nabi bapaknya umat itu mulanya memiliki seorang istri, yakni Sarah, sepupunya sendiri. Mereka hidup di daerah Babilonia atau saat ini berada di sebelah selatan Baghdad sejauh 10 km.

Ketika itu, jelasnya, rajanya diktator dengan mengajak rakyatnya agar menyembah berhala. Bahkan berhala menjadi bisnis dan menghasilkan uang, termasuk ayahandanya Ibrahim yang namanya Azar juga orang yang berbisnis berhala. “Bikin berhala kemudian dijual,” katanya.

Akan tetapi, Nabi Ibrahim melalui akalnya yang cerdas, pikiran yang bening nan jernih tidak pernah menyembah berhala. Justru, Nabi Ibrahim menemui aqidah tauhid setelah melalui perjalanan teologi yang penuh keadilan rasional mantiq.

“Walaupun lahir di tengah-tengah keluarga masyarakat musyrikin, tapi Nabi Ibrahim dengan akal yang cerdas pikiran yang jernih, hatinya yang bening dan bersih tidak pernah menjadi manusia yang menyembah berhala,” jelas kiai asal Cirebon itu.

Nabi Ibrahim pun mencari Tuhan yang sesungguhnya, bukan sekadar batu yang diukir oleh ayahnya. Saat melihat bintang, bulan, hingga matahari, mulanya ia merasa itu secara satu persatu adalah Tuhan sebagaimana yang ia bayangkan. Namun, setelah mereka semua lenyap, ia sadar bahwa Tuhan tidak mungkin menghilang.

“Demikian pula seperti bulan dan bintang, matahari pun hilang matahari pun berubah. Maka beliau mengatakan tidak mungkin ini Tuhan dan saya menemukan Tuhan adalah Yang Maha Satu, Yang Esa, Yang Tunggal, yang tidak punya sekutu, dan tidak mungkin berubah,” katanya.

Sebab, dalam pemikiran Nabi Ibrahim, yang berubah berarti alam, berarti diciptakan. Jika diciptakan, berarti baru. Jika baru, berarti membutuhkan yang menciptakan. Sementara yang menciptakan tidak boleh berubah, tidak boleh baru, harus tetap langgeng dan lestari.

“Alam ini berubah. Setiap yang berubah itu mempunyai sifat baru. Setiap yang baru pasti membutuhkan yang menciptakan. Yang menciptakan tidak boleh berubah, yaitu Allah,” kata Kiai Said.

Dari situlah, Nabi Ibrahim as baru menemukan Tuhan sesungguhnya yang menciptakan langit bumi, bintang, bulan, dan matahari. (Syakir NF/Zunus)
Sb.(NU online)

Posting Komentar

0 Komentar