Annisauf Fadlilah Khoiri; Eksistensi Sastra di Era Milenial

Penulis : Annisauf Fadlilah Khoiri
Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia/Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan/Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

OPINI,--Bila kita membahas topik permasalahan yang terkait dengan perkembangan dan keberadaan atau eksistensi diri dari sebuah karya sastra di Indonesia.

Maka hal tersebut tidak terlepas dari munculnya berbagai karya sastra sesuai pada tahun-tahunnya. Tahun-tahun tersebut digolongkan menjadi beberapa angkatan yang memiliki karakteristik dan ciri khas yang berbeda pada setiap karyanya.

 Angkatan inilah yang menjadi acuan dari berdirinya setiap karya tersebut. Contohnya pada angkatan 1920-an (angkatan Balai Pustaka) terdapat salah satu karya sastra berupa novel yang berjudul Siti Nurbaya karya Marah Rusli, lalu pada angkatan 1933 (angkatan Pujangga Baru) terdapat tokoh sastrawan yang terkenal. Beliau bernama Sultan Takdir Alisahbana. Adapun salah satu karyanya yaitu novel berjudul Layar Tak Berkembang, lalu angkatan 1945 (angkatan Pendobrak) terdapat tokoh sastrawan yang cukup terkenal hingga saat ini yaitu Chairil Anwar dengan puisinya yang berjudul Aku, kemudian pada angkatan 1966 atau Order Lama terdapat tokoh sastrawan yang terkenal pada masanya yaitu Taufik Ismail dengan karyanya berupa puisi salah satunya yaitu Malu (Aku) Jadi Anak Indonesia dan terakhir pada angkatan 2000-an dengan tokoh yaitu Andrea Hirata yang kita tau sendiri karyanya yaitu Laskar Pelangi. 


Hans Bague Jassin atau biasa lebih sering disingkat menjadi H.B. Jassin, seorang pengarang, penyunting, sekaligus kritikus sastra berpendapat bahwa pembagian suatu angkatan sastra itu dapat diklasifikasikan berdasarkan zaman, dengan alasan karena penciptaan hasil karya sastra tidak hanya dipengaruhi dari segi kultural saja melainkan pada perkembangan masa yang turut mewarnai dan memberikan kontribusi penting di dalam pencetusan ide serta kemajuan sebuah sastra. Sastra mengambil peran yang sangat penting dalam kehidupan karena sastra dapat mempengaruhi jiwa seseorang.

Mengapa kita harus membaca karya sastra? Karena dengan membaca karya sastra  yang bermutu dan mengandung nilai positif itu secara otomatis akan membuat perasaan penikmat atau pembaca lebih halus. Tidak hanya itu saja, karya sastra juga dapat menumbuhkan perasaan empati pada sesama dan dapat mengembangkan daya pikir yang lebih luas (imajinasi).


Dari masa ke masa, sastra di Indonesia telah mengalami perkembangan yang sangat pesat.

 Masing-masing angkatan memiliki ciri khas yang berbeda-beda, baik dilihat dari sisi penggunaan tata bahasa, penulisan ejaan, maupun gaya penyampaian yang akan disampaikan atau maksud dari tulisan tersebut.

 Setiap karya sastra akan dinilai oleh para penikmat atau pembaca melalui persepsi yang berbeda-beda dalam menghayati setiap pandangan terhadap suatu karya sastra yang telah dibaca.

Oleh karena itu, sastra bersifat universal karena pada setiap persepsi para penikmat satu dengan yang lain tidak akan sama, tergantung dari sudut melihat dan memahami suatu konteks sastra tersebut.


Eksistensi sastra di era milenial saat ini perlu dikuatkan kembali. Mengingat pada novel yang sekarang dipengaruhi budaya asing seperti novel tentang masalah percintaan yang tidak lazim.

 Kalau permasalahan ini dibawa ke ranah luar negeri, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai hal yang wajar dan ini jauh berbeda jika di Indonesia yang menganggap hal tersebut adalah hal yang tabu.

 Sungguh miris jika salah satu contoh dari berbagai banyak kasus yang terdapat di dalam karya sastra novel di luar negeri dapat ditiru oleh generasi muda mengingat banyaknya peminat pembaca orang Indonesia khususnya pada kaum generasi muda yang gemar mengoleksi novel.


Jika eksistensi suatu sastra tetap dibiarkan seperti itu tanpa adanya tindakan yang lebih serius, maka lambat laun eksistensi dari sebuah sastra di Indonesia akan semakin tergantikan, mulai adanya degradasi, bahkan bisa dikatakan hilang dan hal ini merupakan dampak di era globalisasi yang kini telah menghampiri dan berada di tengah masyarakat Indonesia khususnya terhadap para generasi penerus.

Generasi muda akan semakin mengikuti trend budaya Barat yang kini dianggap sebagai ‘kiblat’ dalam melakukan sesuatu dan mengakibatkan degradasi moral bagi generasi penerus. Dengan demikian, hal tersebut akan menimbulkan dampak negatif bagi mereka. Mereka akan melupakan identitas dirinya sebagai generasi penerus bangsa.

 Maka dari itu, eksistensi sastra di Indonesia sangatlah diperlukan dan dibutuhkan karena sebuah karya sastra merupakan perwakilan (representasi) jati diri suatu bangsa yang di dalamnya mengandung kaidah tentang nilai-nilai dari sosial-budaya untuk kehidupan suatu bangsa dan negara.


Jika ditinjau dari hal di atas, dapat dikatakan bahwa suatu bahasa itu tidak mampu untuk mendukung ilmu pengetahuan yang modern.

 Beda halnya dengan kemampuan yang dimiliki oleh bahasa asing lainnya yang mampu menarik dan menjadi suatu ukuran keterpelajaran seseorang hingga dapat dianggap menjadi seseorang yang gaul bila mampu menguasainya.

 Dengan demikian, generasi muda saat ini memiliki hasrat yang begitu tinggi untuk bisa mempelajari bahasa asing dibandingkan bahasa asalnya sendiri yaitu bahasa Indonesia.

Di samping itu, adanya dampak pada segi sosial bagi orang-orang yang menguasai bahasa asing itu lebih mudah bergaul dengan memiliki berbagai komunitas di berbagai negara dibandingkan hanya mempunyai kemampuan dalam berbahasa Indonesia.

Untuk menguatkan eksistensi sastra itu harus meningkatan terlebih dahulu alur cerita yang di kemas lebih menarik dengan fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana keilmuan perlu terus dilakukan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 Seirama dengan ini, karya sastra Indonesia juga harus selalu di perkenalkan sejak dini agar menumbuhkan rasa ketertarikan serta bisa membangun rasa percaya diri dengan karya sastra Indonesia baik itu di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat  perlu terus dilakukan. Untuk menyemarakkan karya sastra dengan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar sehingga tidak tergantikan.

Penulis : Annisauf Fadlilah Khoiri
Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia/Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan/Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Contak:  annisauffadlilahk@gmail.com/+62 812-4624-9746‬
Alamat margojoyo gang 1 No 16