Pelantikan PP IMDI Dirangkaikan Seminar Dan Pendidikan Gender

Pelantikan PP IMDI Dirangkaikan Seminar Dan Pendidikan Gender

PAREPARE,--Kegiatan pelantikan PP IMDI dirangkaikan dengan seminar dan pendidikan gender oleh PP IMDI sukses di gelar kemarin (06/03). Kegiatan ini mengambil tema " woman and development, maksimalisasi peran perempuan dalam pembangunan bangsa".

Kegiatan ini menghadirkan pembicara nasional dari Komnas Perempuan dan guru besar filologi Unhas.

Dr Maria Ulfa dalam pemaparannya menjelaskan berbagai hambatan kesetaraan, mulai dari hambatan sistem, kultural, biologis, religion, hingga hambatan individual yang masih berpandangan patriarki dalam menjalankan aktivitas berhari-hari.

Usaha untuk mencapai kesetaraan sebetulnya telah secara sungguh-sungguh kita lakukan. Namun beberapa hambatan nampaknya sangat sulit untuk di hilangkan. Contoh nya,

"saya ini pernah jadi anggota dewan. Di Senayan itu, rapat-rapat penting, dan pengambilan keputusan penting biasanya di lakukan tengah malam atau biasanya baru dimulai tengah malam. Nah, bayangkan saja sulitnya bagi perempuan yang hamil atau menyusui. Tentu itu sangat berat" paparnya.

Penerima penghargaan woman of the year ini menegaskan bahwa keadilan sosial adalah kata kunci dari keberhasilan kita mencapai kesetaraan.

" Kita harus membuka selebar-lebarnya akses penghidupan kepada siapapun, terutama pada perempuan, karena hanya dengan kemampuan mengakses sumberdaya itulah perempuan dapat maju" tegasnya.

Sementara itu, prof Nurhayati membedah berbagai problematika perempuan dari prespektif historis kultural.

Menurutnya, kata tidak setara itu tidak pernah ditemukan dalam sejarah kebudayaan masyarakat Bugis.

Sejak dahulu, para raja-raja yang memimpin sebuah kerajaan, biasanya memiliki istri/ratu yang juga memimpin di wilayah kerajaan lainnya. Dan biasanya, pembagian kekuasaan dan pengambilan keputusan antara raja dan ratunya sama proporsional dan kuatnya.

"Perempuan dan laki-laki itu setara sejak dari akar sejarah manusia bugisnya kita. Tolak ukurnya ada pada kompetensi masing-masing individu. Bukan pada identitas gendernya" tegasnya.

Selain itu, guru besar filologi Unhas ini mengingatkan akan pentingnya menjaga akar tradisi dan kebudayaan kita. Karena matinya sebuah tradisi, sama artinya dengan matinya sebuah bangsa.

Ketua PP IMDI menegaskan bahwa  kegiatan seminar dan pendidikan gender ini di lakukan sebagai bentuk implementasi pengabdian masyarakat.

Dosen Stikes Nani Hasanuddin ini menerangkan bahwa seminar ini akan menyasar kaum milenial yang merupakan pekerja profesional dominan di masa yang akan datang, dan akan menjadi penentu arah pembangunan bangsa.(Har/Rls)