BREAKING NEWS

Loading...

Siri’na Pacce: Kultur Membangun Potensi Pelajar

 

Ket gambar : Multazam Mustadjab Anggota Bidang Kader PW IPM Sulsel

Siri’na Pacce: Kultur Membangun Potensi Pelajar


OPINI,--Dalam konteks keberagaman suku dan budaya, setiap wilayah provinsi di Indonesia tentunya memiliki ciri khas suku dan kebudayaan masing-masing. Kebudayaan yang terbangun biasanya lahir dari aktivitas sosial yang berada pada kelompok masyarakat tertentu. Salah satu wilayah yang memiliki  kebudayaan atau kultur masyarakatnya adalah Provinsi Sulawesi Selatan dengan Kota Makassar sebagai ibu kota. 

Secara umum, Provinsi Sulawesi Selatan memiliki empat suku bangsa, yaitu Suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Meskipun keempat suku tersebut memiliki ciri khas masing- masing, akan tetapi memiliki beberapa adat istiadat dan falsafah yang sama dan dijadikan sebagai landasan dalam membangun interaksi sosial.

 Sayangnya, hal-hal mengenai kebudayaan, adat istiadat terkadang hanya dipegang erat oleh kaum tua saat ini, hanya sebagian kecil kaum muda merasa bahwa keterlibatan budaya itu penting bagi kehidupan. 

Kebudayaan dan pengetahuan budaya perlu dipahami sebagai bentuk interaksi sosial masyarakat khususnya di Sulawesi Selatan sekaligus bisa dijadikan sebagai resolusi konflik yang tengah terjadi di Indonesia, salah satunya yaitu budaya siri’ na pacce. Di dalam budaya-budaya ini terkandung nilai-nilai yang bersifat normatif yang bisa menjadi landasan utama untuk membangun interaksi sosial yang positif, bahkan dapat menjadi landasan befikir sebagai upaya membangun potensi diri.

Budaya siri' na pacce dalam kehidupan suku di Makassar menjadi salah satu faktor pendukung untuk mempertahankan nilai solidaritas kemanusiaan. Kata siri’ dalam bahasa Makassar berarti malu atau rasa malu. Menurut C.H Salam Baslah (Mattulada, 1995) terdapat tiga pengertian konsep siri’ Pertama ialah dalam arti rasa malu. Kedua, merupakan daya pendorong untuk membina- sakan siapa saja yang telah menyinggung rasa kehormatan seseorang, dan ketiga ialah sebagai daya pendorong untuk bekerja dan berusaha sebanyak mungkin. Sementara Pacce’ dapat diartikan kokoh atau memiliki pendirian.

Siri’na Pacce dalam pengaplikasiaanya adalah individu akan bekerja untuk meningkatkan potensi yang ada pada dirinya. Individu juga akan berusaha mentaati peraturan yang berlaku di masyarakat, menjaga amanah yang telah diterima, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dalam bekerja. Berdasarkan hal tersebut, siri’ na pacce dapat dijadikan pedoman hidup untuk menumbuhkan sikap positif serta membuat hidup lebih berguna dan bermakna.

 Sehingga individu bekerja bukan karena hadiah atau imbalan yang akan diterima, tetapi untuk mendapatkan kepuasan diri.

Dalam konteks pendidikan, siri’na pacce sangat penting untuk dimiliki dalam jati diri pelajar. Rasa malu perlu dihadirkan dalam setiap aktivitas dalam menjalani kehidupan. Rasa malu yang dimaksud adalah penyadaran diri terhadap potensial yang dimiliki seorang pelajar secara person.

 Potensi yang dimiliki hari ini apakah telah mampu menjadi bekal untuk kemaslatan masyarakat atau belum. Bahkan potensi-potensi yang dimiliki saat ini tak dapat menjadi jaminan bagi diri sendiri di kemudian hari.

Hari ini tak sedikit orang yang menyesali kehidupannya di masa lalu. Di saat mereka masih pada bangku pendidikan formal yang seharusnya mangasa kemampuan baik akademik atau non-akademik, hanya di habiskan dengan aktivitas yang bukan pada peningkatan potensi diri. Maka dari itu, budaya siri’na pacce ini perlu menjadi pondasi utama bagi kaum pelajar saat ini. Bukan sekedar hadir sebagai rasa malu terhadap diri sendiri, akan tetapi juga hadir sebagai penyadaran diri untuk membangun potensi.(***)


penulis : Multazam Mustadjab Anggota Bidang Kader PW IPM Sulsel.


Simak berikut video berita SNN.








Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Siri’na Pacce: Kultur Membangun Potensi Pelajar"

Posting Komentar